Pages

Rabu, 21 November 2012

Makhluk Aneh Bertahan dengan Makan DNA


Marine Biological Laboratory Bdelloidea
CAMBRIDGE, KOMPAS.com — Hewan mikro golongan bdelloidea, rotifera yang hidup di tanah lembab, menarik perhatian ilmuwan. Makhluk ini mampu mempertahankan eksistensi jenisnya dalam waktu 80 juta tahun tanpa reproduksi seksual.

Hasil studi terbaru yang dilakukan Alan Tunnacliffe dari University of Cambridge menambah keanehan makhluk ini. Menurut dia, 10 persen dari DNA bdelloidea ternyata berasal dari organisme uniseluler lainnya, seperti jamur dan bakteri.

"Kami tidak tahu bagaimana gen itu ditransfer, tetapi hampir pasti hal itu dilakukan dengan mencerna DNA dari sisa-sisa material organik yang melimpah di lingkungannya. Bdelloidea akan memakan apa pun yang lebih kecil dari kepalanya," kata Tunnacliffe, seperti dikutip Livescience, Sabtu (17/11/2012).

Banyak makhluk yang bereproduksi secara aseksual terancam kepunahan karena miskin keragaman genetik. Namun, cerita bdelloidea lain. Makhluk itu sukses mengatasi kekurangannya dan terus berkembang hingga semakin beragam dengan jumlah spesies kini mencapai 400.

Dengan DNA "alien" atau DNA yang berasal dari makhluk lain, bdelloidea mendapatkan modal untuk bertahan. Saat makhluk ini menghadapi kekeringan, salah satu gen dalam rantai DNA alien diaktifkan. Gen dari DNA asing itu juga diduga mampu menghasilkan antioksidan ampuh untuk mengatasi efek samping kekeringan.

Berdasarkan riset sebelumnya yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, tahun 2008, kesuksesan bdelloidea juga tak lepas dari kemampuan reparasi DNA. Hasil penelitian terbaru ini dipublikasikan di jurnal  PLoS Genetics, Kamis (15/11/2012).
Sumber :
LiveScience
Editor :
yunan

Pelepah Pisang Bisa Jadi Peredam Suara

Oleh DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

KOMPAS.com - Pelepah pisang merupakan limbah primadona dalam beberapa tahun terakhir untuk diolah jadi berbagai bentuk kerajinan, mulai tas, sandal, hingga hiasan rumah. Penelitian Maharani Dian Permanasari mengungkap satu lagi manfaat pelepah pisang, yakni sebagai peredam suara.

Penelitian dilakukan Maharani tahun 2011 saat menjadi mahasiswa pascasarjana di Institut Teknologi Bandung. Dia meneliti manfaat pelepah pisang kepok (Musa acuminax balbisiana Calla), tidak hanya dibentuk menjadi perabot, tetapi bisa meredam suara bila disusun serta dianyam dalam pola tertentu.

”Jika anyaman pelepah pisang dipasang di rumah sebagai peredam suara ruang home theatre, tentu harganya lebih terjangkau ketimbang peredam suara impor,” kata Maharani yang menjadi dosen di Universitas Surabaya (Ubaya).

Hasil penelitian di Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puslitbangkim) menunjukkan contoh pelepah pisang setebal 2 sentimeter yang dibawa Maharani mampu meredam suara berfrekuensi 200 hertz hingga 63 persen. Frekuensi itu tergolong frekuensi rendah atau suara bas.

Menurut Maharani, saat ini kemampuan meredam suara dari pelepah pisang belum meliputi seluruh frekuensi suara. Suara frekuensi rendah 125 hertz bisa meredam hingga 51 persen, tetapi pada frekuensi 160 hertz tidak sampai meredam 21 persen. Pada frekuensi tinggi, 2.000 hertz, bisa meredam sampai 55 persen, tapi pada 1.600 hertz hanya 40 persen.

”Sebetulnya ini sudah sesuai untuk kebutuhan home theatre karena suara bas yang paling harus diredam,” kata Maharani.

Untuk mampu meredam suara, pelepah pisang harus di- anyam membentuk pola segi enam layaknya sarang lebah. Pola ini paling efektif dalam menutup rapat setiap lubang bila disusun bertumpuk layaknya gelombang. Pola ini tidak dijumpai di Indonesia, melainkan di kepulauan Pasifik. Pola ini biasa digunakan untuk membuat topi anyaman.

Penelitian Maharani menarik perhatian dari luar negeri. Karyanya dipamerkan dalam acara Red Dot Design Museum di kota Essen, Jerman, kemudian dilanjutkan ke pameran Designer’s Open 2012 di Leipzig, Jerman. Keduanya merupakan pameran yang mempertunjukkan tren terbaru dalam busana ataupun desain produk dari berbagai negara.

Penelitian Maharani menunjukkan masih terbukanya kemungkinan untuk memadukan bahan dari pelepah pisang dengan bahan lain untuk meningkatkan daya peredaman suara. Hak cipta dari desain pelepah pisang sebagai bahan akustik itu sudah didaftarkan Maharani ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

Di sela tugasnya sebagai dosen, Maharani terus meneliti mengenai aplikasi pelepah pisang kepok untuk dipakai secara massal hingga kemungkinan dijual secara komersial.

”Untuk produksi massal masih membutuhkan bantuan kelompok perajin yang terbiasa dengan menganyam pelepah pisang,” katanya.

Melimpah

Alasan pemilihan pelepah pisang adalah bahan baku ini melimpah di Indonesia. Setiap tahun Indonesia memproduksi pisang sampai 6 juta ton lebih dan tersebar di berbagai pulau. Pelepah pisang adalah bagian dari batang pohon yang tidak lagi terpakai begitu berbuah.

Menurut Maharani, dia menggunakan lapisan ketiga dan keempat atau di tengah pokok pohon pisang. Alasannya, lapisan pertama dan kedua terlalu rapuh karena kering, sementara lapisan kelima dan keenam sulit dibentuk karena terlalu banyak kandungan airnya. Pelepah pisang memiliki karakter berpori, berongga, serta berserat sehingga tampil unik.

Setelah menjajal berbagai jenis pisang, pilihan jatuh pada pisang kepok. Sebelumnya, Maharani sudah mencoba pelepah pisang susu (Musa sativa L), pisang raja (Musa paradisiaca), maupun pisang batu (Musa balbisiana Colla), tetapi daya redam suaranya tidak ada yang bisa mengalahkan pelepah pisang kepok.

”Sewaktu diuji di Puslitbangkim, peneliti di sana sempat heran karena yang biasa diuji akustik adalah bahan seperti gipsum atau kayu,” ujarnya.

Dengan penelitian ini, Maharani berharap agar produksi pisang di Indonesia makin didorong karena tidak hanya buahnya yang dipanen, tetapi juga batang pohon pisang ikut memberikan nilai ekonomis kepada petaninya.

Nilai tambah

Keterlibatan Maharani dengan pelepah pisang dimulai sejak dia kuliah Desain Produk di ITB pada 2008. Memulai sebagai tugas akhir, Maharani menggunakan pelepah pisang sebagai peralatan sehari-hari. Bila perajin lain membuat dengan cara menganyam dan desainnya masih sebatas kotak, dia memakai teknik pres kemudian dicetak sehingga bentuknya unik, tetapi tidak meninggalkan karakter awal.

Dari perjumpaan dengan penghasil pelepah pisang di daerah Bojonegoro, Jawa Timur, Maharani tertarik untuk mengolah pelepah pisang lebih jauh untuk memberi nilai tambah. Hal itu diwujudkan dalam penelitian soal pelepah pisang sebagai peredam suara.

Maharani berharap, hasil penelitiannya bisa bermanfaat bagi pemilik home theatre yang ingin menata akustik ruangan dengan biaya lebih ringan. Selain itu memberi nilai tambah bagi pelepah pisang dan menambah penghasilan petani pisang.
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
yunan
SUMBER : KOMPAS.COM

Di Jalanan, "Lagu Cinta" Belalang Bersaing dengan Suara Mobil

 
BIELEFELD,
 KOMPAS.com — Lingkungan jalanan yang berisik membuat belalang jenis Chorthippus biguttulus beradaptasi. Mereka tak bisa lagi mengumandangkan lagi cinta lembut untuk menarik pasangan. Mereka berusaha menyaingi suara mobil agar panggilan kawin tetap didengar.

Ulrike Lampe, pakar biologi evolusi dari University of Bielefeld, Jerman, mengungkapnya lewat hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Functional Biology pada Rabu (14/11/2012). Lampe merekam 1.000 suara belalang yang tinggal di lingkungan dekat jalan raya.

Belalang jenis tersebut menghasilkan suara dengan menggesekkan bagian serupa gigi pada kaki melawan bagian urat-urat sayap. Suara atau "lagu cinta" belalang diproduksi dalam frekuensi tinggi dan rendah.

Dari hasil penelitian, suara jangkrik yang tinggal di jalanan ternyata berbeda walaupun mereka telah dipindahkan ke tempat yang lebih tenang. Belalang yang tinggal di lingkungan berisik memiliki frekuensi suara lebih tinggi.

"Jadi kami secara relatif yakin bahwa ini efek jangka panjang. Ini mungkin hasil perbedaan genetik ataupun perubahan pada saat stadium larva," kata Lampe, seperti dikutip New York Times, Senin (19/11/2012).

Belalang mungkin bisa beradaptasi dengan lingkungan yang tinggi polusi suara akibat aktivitas manusia. Namun, Lampe mengatakan, ada banyak serangga yang mungkin mengalami gangguan karenanya. Polusi suara juga telah dilaporkan memengaruhi komunikasi katak, burung, dan beberapa mamalia.
 
Sumber :
New York Times
Editor :
yunan
sumber : KOMPAS.COM